Selasa, 04 Januari 2011

Kisah seorang Ibu yang Kurus dan Tua

Pasar malam dibuka di sebuah kota. Penduduk menyambutnya dengan gembira. Berbagai macam permainan, stand makanan dan pertunjukan diadakan. Salah satu yang paling istimewa adalah atraksi manusia kuat.

Begitu banyak orang setiap malam menyaksikan unjuk kekuatan otot manusia kuat ini. Manusia kuat ini mampu melengkungkan baja tebal hanya dengan tangan telanjang. Tinjunya dapat menghancurkan batu bata tebal hingga berkeping-keping. Ia mengalahkan semua pria di kota itu dalam lomba panco. Namun setiap kali menutup pertunjukkannya ia hanya memeras sebuah jeruk dengan genggamannya. Ia memeras jeruk tersebut hingga ke tetes terakhir. 'Hingga tetes terakhir', pikirnya.

Manusia kuat lalu menantang para penonton: "Hadiah yang besar kami sediakan kepada barang siapa yang bisa memeras hingga keluar satu tetes saja air jeruk dari buah jeruk ini!"

Kemudian naiklah seorang lelaki, seorang yang atletis, ke atas panggung.

Tangannya kekar. Ia memeras dan memeras... dan menekan sisa jeruk... tapi tak setetespun air jeruk keluar. Sepertinya seluruh isi jeruk itu sudah terperas habis. Ia gagal. Beberapa pria kuat lainnya turut mencoba, tapi tak ada yang berhasil. Manusia kuat itu tersenyum-senyum sambil berkata : "Aku berikan satu kesempatan terakhir, siapa yang mau mencoba?"

Seorang wanita kurus setengah baya mengacungkan tangan dan meminta agar ia boleh mencoba. "Tentu saja boleh nyonya. Mari naik ke panggung." Walau dibayangi kegelian di hatinya, manusia kuat itu membimbing wanita itu naik ke atas pentas. Beberapa orang tergelak-gelak mengolok-olok wanita itu. Pria kuat lainnya saja gagal meneteskan setetes air dari potongan jeruk itu apalagi ibu kurus tua ini. Itulah yang ada di pikiran penonton.

Wanita itu lalu mengambil jeruk dan menggenggamnya. Semakin banyak penonton yang menertawakannya. Lalu wanita itu mencoba memegang sisa jeruk itu dengan penuh konsentrasi. Ia memegang sebelah pinggirnya, mengarahkan ampas jeruk ke arah tengah, demikian terus ia ulangi dengan sisi jeruk yang lain. Ia terus menekan serta memijit jeruk itu, hingga akhirnya memeras... dan "ting!" setetes air jeruk muncul terperas dan jatuh di atas meja panggung.

Penonton terdiam terperangah. Lalu cemoohan segera berubah menjadi tepuk tangan riuh.

Manusia kuat lalu memeluk wanita kurus itu, katanya, "Nyonya, aku sudah melakukan pertunjukkan semacam ini ratusan kali. Dan, banyak orang pernah mencobanya agar bisa membawa pulang hadiah uang yang aku tawarkan, tapi mereka semua gagal. Hanya Anda satu-satunya yang berhasil memenangkan hadiah itu.

Boleh aku tahu, bagaimana Anda bisa melakukan hal itu?"

"Begini," jawab wanita itu, "Aku adalah seorang janda yang ditinggal mati suamiku. Aku harus bekerja keras untuk mencari nafkah bagi hidup kelima anakku. Jika engkau memiliki tanggungan beban seperti itu, engkau akan mengetahui bahwa selalu ada tetesan air walau itu di padang gurun sekalipun. Engkau juga akan mengetahui jalan untuk menemukan tetesan itu. Jika hanya memeras setetes air jeruk dari ampas yang engkau buat, bukanlah hal yang sulit bagiku". Selalu ada tetesan setelah tetesan terakhir. Aku telah ratusan kali mengalami jalan buntu untuk semua masalah serta kebutuhan yang keluargaku perlukan. Namun hingga saat ini aku selalu menerima tetes berkat untuk hidup keluargaku. Aku percaya Tuhanku hidup dan aku percaya tetesan berkat-Nya tidak pernah kering, walau mata jasmaniku melihat semuanya telah kering. Aku punya alasan untuk menerima jalan keluar dari masalahku. Saat aku mencari, aku menerimanya karena ada pribadi yang mengasihiku.

PESAN SPONSOR :
"Bila Anda memiliki alasan yang cukup kuat, Anda akan menemukan jalannya", demikian kata seorang bijak.

Seringkali kita tak kuat melakukan sesuatu karena tak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menerima hal tersebut.

4 ORANG KEKASIH

Renungan Harian dari ALPHA OMEGA

4 Orang Kekasih... (Sekedar sebuah analogi, utk ke-Imanan)

Suatu ketika, ada seorang Pria yang mempunyai 4 orang Kekasih,

Dia mencintai Kekasih yang keempat, dan menganugerahinya harta dan kesenangan yang banyak. Sebab, dialah yang tercantik diantara semua kekasihnya. Pria ini selalu memberikan yang terbaik buat Kekasih keempatnya ini.

Pria itu juga mencintai Kekasih yang ketiga. Dia sangat Bangga dengan kekasihnya ini, dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita ini kepada semua temannya. Namun, ia juga selalu khawatir kalau kekasihnya ini akan lari dengan pria yang lain.

Begitu juga dengan Kekasih yang kedua. Ia pun sangat menyukainya. Ia adalah Kekasih yang Sabar dan penuh Pengertian. Kapanpun Pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan Kekasihnya ini. Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi dirinya, melewati masa-masa yang sulit.

Lalu mengenai Kekasih yang pertama, Dia adalah pasangan yang sangat Setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi kehidupan mereka. Dia lah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sang Kekasih. Akan tetapi, sang Sales Manager ini tak begitu mencintainya. Walaupun sang Kekasih Pertama ini begitu sayang padanya, namun, sang Pria ini tak begitu mempedulikannya.


Suatu ketika, si Pria sakit. Lama kemudian, ia menyadari, bahwa ia akan segera meninggal. Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati, "Saat ini, aku punya 4 orang Kekasih, Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri."

Lalu, ia meminta semua Kekasihnya datang, dan kemudian mulai bertanya pada Kekasih Keempatnya. "Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang, aku akan mati, maukah kau mendampingiku dan menemaniku ?

Ia terdiam. "Tentu saja Tidak, "jawab Kekasih keempat, dan pergi begitu saja tanpa berkata-kata lagi. Jawaban itu sangat menyakitkan hati. Seakan-akan, ada pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya.

Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada Kekasih Ketiga. "Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku ?

Kekasihnya menjawab, Hidup begitu Indah disini, Aku akan mencari pasangan lain lagi jika kau mati.

Sang pria begitu terpukul dengan ucapan ini. Badannya mulai merasa demam.

Lalu, ia bertanya pada Kekasih Keduanya, "Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau ku mati, maukah kau ikut dan mendampingiku ?"

Sang Kekasih menjawab pelan. "Maafkan aku," ujarnya "Aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja, Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu."

Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang Pria kini merasa putus asa.

Tiba-tiba terdengar sebuah suara. "Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku, tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu.

Sang pria lalu menoleh ke samping, dan mendapati Kekasih Pertamanya disana. Dia tampak begitu kurus. Badannya tampak seperti orang yang kelaparan.

Merasa menyesal, sang Pria itu lalu bergumam, "Kalau saja, aku bisa merawatmu lebih baik saat ku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, Kekasihku."


Sesungguhnya kita punya 4 orang Kekasih dalam hidup ini....

* Kekasih yang Keempat, adalah TUBUH kita... Seberapapun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, Semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-NYA.

** Kekasih yang Ketiga, adalah Status Sosial dan Kekayaan. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah, dan melupakan kita yang pernah memilikinya.

*** Sedangkan Kekasih yang Kedua, adalah Kerabat dan Teman-teman. Seberapapun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bisa bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.

Dan, Kekasih Pertama kita adalah IMAN, JIWA dan Perbuatan BAIK kita. Mungkin, kita sering mengabaikan, dan melupakannya demi Kekayaan dan Kesenangan Pribadi. Namun, sebenarnya, hanya Iman, Jiwa dan Perbuatan Baik kita sajalah yang mampu untuk terus Setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Sampai akhir jaman....

Selasa, 21 Desember 2010

RENUNGAN: Sopir taxi yang ngotot

Suatu malam pada waktu pulang dari toko buku saya ketemu sopir taxi yang ngotot sok tahu. Jalan menuju rumahku adalah satu arah. Sopir taxi tersebut berkata,"Kita salah arah, seharusnya tidak boleh lewat sini karena ini satu arah dan kita salah arah." Saya jawab dengan tenang,"Ini memang jalan satu arah tapi kita tidak salah arah." Tapi sopir taxi tersebut terus ngotot dan dengan santai akhirnya saya katakan bahwa aku sudah 10 tahun lebih setiap hari selalu lewat jalan tersebut.



Dari peristiwa tadi, saya akhirnya berpikir bahwa saya terkadang juga sering ngotot kepada Tuhan. Kadang saya berkata, "Tuhan aku mau ke situ lewat jalan ini. Aku yakin ini jalan yg benar Tuhan." Terkadang kita merasa sok tahu bahwa itu jalan yang benar walau sebenarnya itu salah. Tuhan sebenarnya sudah menunjukkan jalan yg benar tapi kita masih terus ngomel bahwa itu jalan yg salah. Untung sopir taxi tadi masih mau mengikuti jalan yang saya tunjukkan walau sambil ngomel jalan salah arah itu tadi karena kalau tidak akan lebih lama lagi sampai ke tujuan. Apa jadinya kalau kita ngomel ke Tuhan tapi kita tidak mau mengikuti jalanNya.



Ya Tuhan, tambahkanlah kami iman dan kepekaan untuk dapat mengikuti jalanMu



YN

Renungan: BANTAL

Seorang Pastor terkena serangan jantung karena mendengar banyak gosip dan fitnah tentang dirinya.

Seorang Ibu, salah seorang yang suka menggosipkan Pastor itu, menjenguknya dan minta maaf, " Pastor, saya minta maaf karena saya telah membuat gosip dan fitnah terhadap Pastor.Jika ada sesuatu yang bisa menghilangkan fitnah dan gosip itu, akan saya lakukan dengan senang hati!"

Pastor yang sakit itu menarik bantal dari kepalanya, lalu memberikan bantal itu pada Ibu itu sambil berkata, " Pergilah ke halaman Gereja. Di puncak menara sana, ambillah semua kapuk dari dalam bantal itu dan sebarkanlah ke udara!"

Untuk menggembirakan hati Pastor, Ibu itu melakukan apa yang diperintahkan Pastor. Semua kapuk dari bantal itu disebarkannya ke udara dari menara gereja.

Dalam sekejap, kapuk-kapuk itu terbang kesana kemari diterbangkan angin.

Ibu itu kembali kepada Pastor untuk meyakinkan bahwa dia telah melakukan apa yang diperintahkan dengan membawa sarung bantal yang sudah kosong.

" Nah, sekarang pergilah keluar dan kumpulkan semua kapuk kembali, lalu masukkan ke dalam sarung bantal ini," Kata pastor.

" Itu mustahil, Pastor!" Jerit Ibu itu. " Angin telah menyebarkan kapuk-kapuk ke segala arah!"

" Begitu juga dengan apa yang anda lakukan pada saya! Gosip dan fitnah itu telah menyebar ke segala penjuru!" Sahut Pastor itu dengan tenang.

Lepaskanlah pengampunan kepada orang yang Anda benci

Seorang Ibu Guru SD mengadakan "permainan". Ibu Guru menyuruh anak-anak murid-muridnya membawa kantong plastik transparan 1 buah & kentang. Masing-masing kentang tersebut diberi nama berdasarkan nama org yg dibenci. Sehingga jumlah kentang-kentangnya tidak ditentukan berapa, tergantung jumlah org yangg dibenci.



Pada hari yg disepakati masing-masing murid membawa kentang dalam kantong plastik. Ada yg berjumlah 2, ada yg 3 bahkan ada yg 5. Spt perintah guru mereka, tiap-tiap kentang diberi nama sesuai nama org yg dibenci. Murid-murid hrs membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun, selama 1 minggu



Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid mulai mengeluh, apalagi yg membawa 5 buah kentang, selain berat baunya juga tidak sedap. Setelah 1 minggu murid-murid SD tersebut merasa lega krn penderitaan mereka akan segera berakhir.



Ibu Guru: "Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu?"



Keluarlah keluhan dari murid2 SD tersebut, pd umumnya mereka tidak merasa nyaman hrs membawa kentang-kentang busuk tersebut ke manapun mereka pergi. Guru pun menjelaskan apa arti dari " permainan " yang mereka lakukan.



Ibu Guru: "Seperti itulah kebencian yg selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain.



Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemanapun kita pergi. Itu hanya 1 minggu, bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup ?



Alangkah tidak nyamannya ...



Karena itu, lepaskanlah pengampunan kepada orang yang Anda benci.



Karena ketika anda tidak mau mengampuni, anda seperti sedang memegang bola berduri. Semakin anda tidak mau melepaskan bola berduri itu, anda sendiri yg akan merasakan sakit. Karena itu tidak ada jalan lain kecuali melepaskan pengampunan.

Dulu Ingin, Sekarang Tidak

“ Pa, Vivi minta buku dongeng Cinderella ya, buat ulang tahunku nanti,” kata Vivi, anak kami satu-satunya.



“ Ok, nanti Papa dan Mama belikan buat Vivi,” jawabku singkat.



“ Yang Bahasa Inggris ya, Pa. ‘Kan Vivi sedang disuruh sama guru Vivi belajar dua bahasa.” Katanya lagi.



“ Ok, nanti Papa carikan. “ Aku melihat kepolosan tatapan wajahnya yang seminggu lagi akan berusia enam tahun.



“ Terus yang gambarnya bagus, Pa… Vivi gak suka kalau gambarnya jelek. Dan sampulnya yang keras ya, Pa… Jangan yang lembek dan tipis. “ Vivi terus mengungkapkan secara detail apa yang diinginkannya. Terus dan terus ocehan keluar dari bibirnya yang mungil. Dia sudah tahu lebih spesifik apa yang dia inginkan.



“ Iya, iya… Papa carikan. Vivi tenang aja…”



***



Seminggu berlalu.

Ini hari ultah Vivi. Kami tidak rayakan besar-besaran. Cukuplah antara keluarga kami plus kakek dan neneknya. Vivi mengenakan baju warna kuning bergambar kupu-kupu ‘pink’ dan rambutnya dikuncir dua. Dia tampak manis sekali.



Setelah meniup lilin dan memotong kue bergambar ‘Hello Kitty’, dia bergegas menghampiri kado-kadonya. Kertas kado merah itu dirobeknya perlahan, buku Cinderella yang seminggu lalu dia minta begitu spesifik. Pastinya dia akan bahagia, begitu pikir kami… Karena dia mendapatkan apa yang dia inginkan…



Tetapi tak lama, diletakkannya begitu saja buku Cinderella berbahasa Inggris yang kavernya tebal itu. Dia kembali menangis tersedu.



Dengan setengah bingung, istriku bertanya padanya:

“ Ada apa, Nak? Bukankah itu yang Vivi mau? Kenapa masih nangis?”



“ Ma, memang Vivi mau buku ini seminggu yang lalu. Tapi sekarang Vivi gak mau lagi. Vivi maunya buku Princess dan Barbie seperti punya Clara di sekolah. Vivi gak mau lagi Cinderella… Kata Clara udah gak musimmm…” Tangisnya makin kencang. Menyisakan kebingungan di wajah kami lalu mengelus dada:

“ Namanya juga anak-anak….”



***

Sering kali, kita seperti Vivi. Dalam hubungan kita dengan Allah Bapa, tak jarang kita meminta dalam doa. Kita pintakan dengan begitu spesifik, begitu detail apa yang kita inginkan… Namun, segera sesudah mendapatkannya kita kehilangan semangat… Karena mungkin waktu tunggu yang terlalu lama, karena doa yang seolah tak kunjung terjawab, karena Tuhan seolah menunda-nunda… Sehingga pada akhirnya, ketika Dia anugerahkan kepada kita, kekecewaanlah yang timbul. Bukannya rasa syukur. Karena kita merasa permintaan itu mungkin sudah ‘basi’ sementara kita sudah memiliki banyak antrian keinginan baru yang lainnya.



Saat Tuhan anugerahkan itu bukan di waktu yang kita inginkan, kita merasa kurang bisa menghargainya bahkan terkesan dingin menyambutnya. Tak jarang, setelah diberikan-Nya … Malah keluhan dan amarah kepada-Nya yang keluar dari mulut kita… Hal ini sangat mungkin terjadi, bahkan terasa wajar dalam hidup ini. Ah, aku ‘kan ikut trend Tuhan. Dulu inginnya kamera A yang canggih, sekarang kamera D yang lebih canggih jadi ketika diberikan kamera A tak lagi ada rasa syukur ketika menerimanya…



Sering kali kita berharap Tuhan menghadirkan apa yang kita inginkan pada saat itu juga. Padahal tak jarang kita dengar bahwa Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan dan bukan melulu apa yang kita inginkan. Seharusnya kita pun sadar bahwa keinginan kita begitu banyaknya, terkadang seolah tak ada habisnya…. Tak pernah berhenti daftar keinginan yang kita sampaikan kepada-Nya seolah St. Claus yang kebanjiran permintaan di setiap Natalnya…Mungkin, seperti itulah rasa ingin kita terhadap banyak hal di dunia ini…



Ketika Tuhan menganugerahkan sesuatu yang kita inginkan di masa lalu dan sekarang sudah tidak begitu kita inginkan lagi, mungkin kita malah menangis dan bersedih seperti Vivi yang kecewa dengan buku Cinderellanya… Karena yang dia inginkan adalah buku Barbie atau Princess untuk saat ini. Tak tertutup kemungkinan jika Papa memberikannya buku Barbie dan Princess sebulan kemudian, malahan dia melengos pergi. Karena yang dia inginkan di saat itu adalah buku dan DVD ‘ High School Musical’ yang sebenarnya dia tak tahu persis seperti apa- hanya ikut-ikutan temannya saja.



Tetapi sebagai anak-anak Tuhan, kita hendaknya terus ingat…Mungkin dulu tidak diberikan kepada kita karena belum waktu-Nya… Belum masuk perencanaan-Nya… Tugas kita hanyalah percaya bahwa Dia akan berikan tepat waktu dan Dia mengerti kebutuhan kita…



Tidak mudah pula untuk terus berucap: syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas segala hal. Tetapi biarlah saat ini, kita belajar lebih baik lagi… Persembahkan semua kecewa yang pernah ada, termasuk kecewa karena keinginan yang terkabul bukan di saat yang kita inginkan. Yang dalam kerangka pikir kita sudah ‘expired’- sudah kadaluarsa…. Karena di mata-Nya, inilah saat yang tepat untuk Dia berikan kepada kita…. Dan hendaknya kita yakini, pastilah itu yang terbaik bagi kita…



Ho Chi Minh City, 13 December 2010

-fon-

* copas, forward, share? Harap sertakan sumbernya. Trims.

* tautannya ada di: http://fjodikin.blogspot.com/2010/12/dulu-ingin-sekarang-tidak.html

Selasa, 14 Desember 2010

Where Love Is, God is..

Leo Tolstoy - Where Love Is, God Is

Adalah seorang tukang sepatu yang
bernama Martin Avdeich, dia tinggal di satu apartemen bawah tanah dengan satu jendela kecil. Dari jendela itulah dia bisa melihat orang yang lalu lalang dari kakinya. Martin yang karena pekerjaannya sebagai tukang sepatu, tidaklah sulit buat dia mengenali orang yang lalu lalang itu dari sepatu yang dipakainya. Martin adalah pekerja keras, dia tidak pernah menipu pelanggannya, dia selalu menggunakan bahan terpilih untuk membuat sepatu, dia juga selalu tepat janji, pendek kata Martin selain pekerja keras juga pekerja yang baik.

Martin pernah mengalami kekecewaan dengan Tuhan saat istri dan anak-anaknya meninggal, di tengah kekecewaannya dia pernah minta supaya Tuhan juga memanggilnya, karena dia sudah tidak melihat arti hidupnya ini. Di saat keadaan yang paling susah itulah dia bertemu orang yang mengingatkan kalau Tuhan sudah memberinya hidup, dan mengingatkan Martin bahwa hidupnya harus diberikan kepada Tuhan. Di tengah ketidak mengertiannya dan usahanya bagaimana caranya memberikan hidup untuk Tuhan, tiba-tiba dia bermimpi, mendengar suara Tuhan, "Martin ... Martin .. berjaga-jagalah Aku akan datang ke tempatmu esok".

Besoknya Martin menanti-nanti. Kadang-kadang ia berpikir suara itu hanya mimpi, kadang-kadang ia meyakini ia benar-benar mendengar suara itu. Martin duduk di samping jendelanya sambil bekerja. Tiap kali dia menatap ke jalan menunggu Tuhan datang. Akhirnya dari jendelanya Martin melihat orang berpakaian usang, dengan sepatu penuh jahitan dan sebuah sekop di tangan. Dari sepatunya Martin tahu bahwa orang tua itu Stephanich, orang miskin yang menumpang di rumah orang lain dan melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil seperti membersihkan salju. Ia mulai membersihkan salju di depan jendela Martin. Martin mengamati Stephanich sampai Stepanich meletakkan sekop, dan kelihatan menggigil mencari tempat istirahat dan berlindung dari hawa dingin. Orang tua ini kelihatan sangat rapuh. Martin mengundangnya masuk. Stephanich begitu gemetar sampai hampir jatuh waktu masuk. "Masuklah ke dalam dan aku punya teh hangat," demikian seru Martin kepada Stepanich. Stepanich yang ragu-ragu masuk ke rumahnya bertanya apakah Martin sedang menunggu seseorang? Martin menjawab, "Saya sebenarnya malu untuk mengatakan pada anda bahwa memang saya sedang menunggu Tuhan, seperti yang saya pahami melalui Alkitab bahwa betapa betapa besar kasih Tuhan sampai Dia mau turun ke bumi". Begitulah Martin bukan hanya memberikan teh tetapi juga bagian makan siangnya yang sangat sederhana. Stephanich pamit dengan air mata di pipi karena rasa terimakasihnya yang dalam.

Martin menunggu lagi. Berbagai orang lewat lalu lalang. Tuhan belum juga muncul. Sampai dilihatnya seorang wanita miskin dengan bayinya. Wanita ini hanya berpakaian musim panas, wanita ini tidak punya uang untuk menebus syal nya yang digadaikan. Martin bangkit dan memanggil wanita itu untuk masuk kerumahnya. Martin menyambut wanita dan bayinya ini. Memasak bubur untuk bayi itu dari persediaannya yang tipis dan memberikan uang kepada wanita itu supaya ia bisa menebus syal yang dia gadaikan untuk memberi makan bayinya. Ia juga memberikan satu-satunya mantel cadangannya yang juga sudah tua dan benangnya yang sudah menipis. Wanita miskin tersebut mengambil pemberian Martin dengan air mata yang berlinang.

Martin, duduk lagi. Hari mulai sore. Dia makan sisa makanan yang masih tersedia, bekerja lagi. Tapi dia tetap berkali-kali memandang ke jalan. Menunggu dan menunggu datangnya Tuhan.

Tidak lama seorang wanita tua penjual apel lewat. Punggungnya menggendong kayu bakar, dan tangannya menjinjing keranjang dagangan yang hanya berisi beberapa butir apel. Kayu bakarnya sangat berat sehingga ia berhenti, membetulkan gendongannya. Ia meletakkan keranjangnya di tanah. Tiba-tiba seorang anak laki-laki kecil lari dan mengambil beberapa apel. Tapi nenek ini dengan cekatan menjambret baju anak itu.

Nenek itu menarik rambut anak kecil itu dan berteriak akan membawa dia ke kantor polisi. Martin meminta-minta agar si nenek tidak membawa anak itu ke polisi. Martin akan membayar apelnya.

Akhirnya nenek melepaskan pegangannya dan anak itu langsung melarikan diri. Martin menangkapnya dan berkata, "Mintalah maaf kepada nenek itu, dan saya tidak ingin melihat engkau mengambil apelnya lagi".

Anak itu minta maaf. Malahan dia menawarkan diri mengangkat kayu bakar si nenek. Mereka berjalan berdampingan.

Martin menunggu. Hari mulai malam. "Tampaknya hari sudah gelap", pikir Martin. Dia membersihkan peralatannya. Menyalakan lampu. Mengambil Alkitabnya. Dan dia merenung menantikan Tuhan. Tetapi sudah malam., apakah Tuhan masih akan datang?

Martin kembali merenung akan mimpinya yang mendengar suara Tuhan, kalau Dia akan datang kerumahnya... Tiba -tiba dia mengalami situasi yang sama dalam mimpinya, dia mendengar lagi suara yang berkata di telinganya "Martin ... Martin, apakah kamu tidak mengenal aku?"

"Siapa?" tanya Martin ,

"Aku",  jawab suara itu. Di tengah kegelapan malam Martin melalui kaca jendelanya samar-samar melihat Stephanich yang tersenyum.

"Ini adalah Aku", terdengar ada suara itu lagi, dan Martin sama-samar melihat wanita tua dan bayinya dan lenyap.

"Ini adalah Aku", terdengar suara lagi, dan Martin samar-samar melihat wanita tua dan apelnya bersama dengan anak laki-laki.

Melihat itu jiwa Martin gembira karena dia teringat apa yang tertulis di Alkitabnya, "Sebab pada waktu Aku lapar, kalian memberi Aku makan, dan pada waktu Aku haus, kalian memberi Aku minum. Aku seorang asing, kalian menerima Aku di rumahmu. Aku tidak berpakaian, kalian memberikan Aku pakaian. Aku sakit, kalian merawat Aku. Aku dipenjarakan, kalian menolong Aku."

Impian Martin menjadi kenyataan, Tuhan memang sudah datang dan makan bersamanya hari itu. Martin akhirnya boleh mengerti, "Ketahuilah: waktu kalian melakukan hal itu, sekalipun kepada salah seorang dari saudara-saudara-Ku yang terhina, berarti kalian melakukannya kepada-Ku."

Jikalau 2000 tahun yang lalu Tuhan hadir ke dunia dalam bayi Jesus, saat ini Tuhan bisa hadir diantara kita melalui orang -orang di sekitar kita, bukalah pintu hati kita, sama seperti Martin Avdeich yang selalu menyambut hangat sesamanya.

(Cerita ini diambil dari "Where Love Is, God Is" karangan Leo Tolstoy, 1885. Cerita yang dari 14 halaman, dicoba diringkas menjadi 1 halaman, mudah-mudahan pesannya masih bisa kita nikmati sebagai renungan Natal.)